Para Tokoh Lintas Agama dari Forum Beda Tapi Mesra pada hari Sabtu (7/10/2017)

Para Tokoh Lintas Agama dari Forum Beda Tapi Mesra pada hari Sabtu (7/10/2017)

Surabaya – Pertemuan – pertemuan lintas budaya dan agama sangat dibutuhkan untuk memberikan pemahaman dan pengertian yang sangat baik antar sesama manusia. Hal itulah yang menjadi dasar diadakannya acara Malam 1 Suro Paguyuban Saptadarma, Semampir, Surabaya pada hari Sabtu (7/10/2017).

Ditemui di sela – sela acara tersebut, Kiai Haji Achmad Suyanto selaku Ketua Umum Forum Beda Tapi Mesra mengungkapkan, “Forum Beda Tapi Mesra ini muncul karena fakta, realita dan keprihatinan sebagai anak bangsa melihat adanya keberagaman budaya, latar belakang agama, suku, golongan dan etnis yang sangat berbeda satu dengan lainnya”

“Secara demografis, dari Sabang sampai Merauke, kita berbeda suku bangsa dan hakekat kemanusiaan. Yang menjadi keprihatinan adalah akhir-akhir ini mulai ada gejala – gejala disharmonisasi dan disintegrasi mulai muncul sehingga ada keretakan – keretakan dari hubungan personal hingga agama yang saling gesekan itu. Berangkat dari pelbagai hal itu, berdirilah Forum Beda Tapi Mesra tanggal 3 September 2016 yang didirikan di sebuah perkebunan di desa Mbelik, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Forum ini dimiliki oleh Tirto Santoso selaku penasihatnya,”katanya. Forum ini memiliki sekitar 100 anggota dari 6 agama tertenu dan 1 penghayat agama.

Ditanya jumlah secara kuantitas, KH Achmad Suyanto menyebutkan ada 100 anggota dari semua tokoh agama dengan berbagai macam kegiatan yang berpindah – pindah seperti pertemuan lintas agama dengan berbagai pelatihan – pelatihan, dan berpartisipasi dengan semua even – even. “Setiap bulan, kita adakan kegiatan dialog lintas agama di tempat – tempat ibadah dan ini dilakukan secara merata. Kami melakukan juga pelatihan hidroponik, kegiatan ritual agama lainnya seperti malam satu suroan ini dimana kita menginginkan keguyuban secara bersama,”tambah Achmad Suyanto.

Terkait dengan perkembangan teknologi yang sangat cepat dan pengaruhnya dengan generasi muda khususnya dengan penggunaan media sosial. “Untuk itu, kita mengajak generasi muda untuk dapat berdialog bersama secara bersama antar umat beragama dan mengadakan kegiatan bakti sosial agar dapat membangkitkan semangat empati kepada masyarakat”tuturnya.

Sementara itu, Mardikin selaku penanggung jawab dari acara malam 1 Suroan di Paguyuban Saptodarmo Semampir, mengatakan bahwa ritual yang diadakan di tempatnya ini selalu berkala dan ini untuk menciptakan kerukunan dan kebersamaan dengan masyarakat Semampir dan sekitarnya.

(Pet)