Andri (pria berbaju putih) sedang membuat lilin pada hari Sabtu (26/5/2018) di ruangan yang ada di area jalan salib Gua Maria Mojosongo, Solo

Andri (pria berbaju putih) sedang membuat lilin pada hari Sabtu (26/5/2018) di ruangan yang ada di area jalan salib Gua Maria Mojosongo, Solo

Surakarta – Bekas cairan lilin yang berserakan di tempat – tempat lilin ternyata bisa diolah lagi menjadi lilin utuh dengan cara tradisional. Hal itu terbukti dengan ketrampilan Andri dalam mengolah bekas cairan lilin yang ada di kompleks wisata rohani Gua Maria Mojosongo, Solo.

Mereka mengolahnya di suatu ruangan yang berada di belakang area jalan salib Gua Maria Mojosongo, Solo. Lokasi pembuatan lilin ini tidak begitu jauh dengan stasiun solo Jebres dan Stasiun Solo Balapan.

Andri berkata bahwa bekas cairan lilin daripada menjadi suatu sampah yang tidak terpakai maka kami ingin mengolahnya menjadi lilin lagi dengan cara tradisional. “Kami mengumpulkan sisa – sisa bekas cairan lilin yang ada di komplek gua maria mojosongo maupun dari tempat lain yang ada di Solo” ujarnya ketika ditemui oleh kabaremansipasi.com pada hari Sabtu (26/5/2018) di Gua Maria Mojosongo.

Limbah Lilin yang dikumpulkan oleh Andri

Limbah Lilin yang dikumpulkan oleh Andri

Lanjutnya, proses pengolahan limbah lilin diawali dengan memilah – memilah sisa – sisa bekas cairan lilin yang telah dikumpulkan. Kemudian, kami memasaknya di tungku pemanas dengan suhu tertentu. Setelah itu, kami memasukkan hasil limbah lilin yang dipanaskan ke dalam suatu cetakan yang telah kami buat. “Cetakan lilin menyerupai tempat lilin yang diberi benang – benang yang terdapat di lokasi gua maria mojosongo” kata pria asal Solo itu. Benang-benang itu akan dimasukan ke dalam lilin menjadi sumbu lilin.

Pria yang berusia 30 tahun itu mengatakan proses pembuatannya memakan waktu sekitar dua – tiga jam dari proses memasak limbah lilin hingga mencetak lilin. “Setelah selesai proses produksi, lilin akan disortir lagi sesuai dengan kualitasnya” tambahnya.

Lilin yang diproduksi oleh Andri beserta teman – temannya berjumlah 1000 lilin setiap harinya. “Hasil lilin yang telah jadi untuk sementara masih kami berikan ke komplek gua maria mojosongo, Solo dan gerejanya (Paroki Santa Maria Regina Purbowardayan, Solo)” jelasnya. Sayangnya, Andri menolak menyebutkan jumlah nominal uang yang didapatkan dari penjualan lilin itu.

Hasil produksi olahan limbah lilin

Hasil produksi olahan limbah lilin

Andri berharap, sisa – sisa cairan lilin hendaknya diolah menjadi lilin lagi supaya bermanfaat bagi masyarakat. “Saya dan teman-teman ingin penjualan hasil olahan limbah lilin ini bisa dijual di berbagai gereja” timpalnya.

(ric)